Banyak Satwa Yang Turun Gunung Akibat Kebakaran Di TWA Kawah Ijen

Balai Konservasi Sumber Daya Alam memantau adanya pergerakan satwa yang menuruni gunung karena terjadinya kebakaran di area Gunung Ranti, Taman Wisata Alam Kawah Ijen dan Hutan Konservasi Merapi Ungup-Ungup. Beberapa warga juga melihat banyak satwa yang turun setelah kebarakan hutan terjadi.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam memantau adanya pergerakan satwa yang menuruni gunung karena terjadinya kebakaran di area Gunung Ranti, Taman Wisata Alam Kawah Ijen dan Hutan Konservasi Merapi Ungup-Ungup. Beberapa warga juga melihat banyak satwa yang turun setelah kebarakan hutan terjadi.

Dari pemantauan kamera, banyak satwa yang turun menuju ke arah lereng timur terutama yang berjenis burung hingga menuju kawasan Erek-Erek dan Gantasan.

Kepala Resort TWA Kawah Ijen, Sigit Haribowo mengatakan bahwa satwa yang turun gunung tersebut diantaranya adalah kijang, macan kumbang, macan tutul dan burung kacamata.

Banyak Satwa Yang Turun Gunung Akibat Kebakaran Di TWA Kawah Ijen.jpg, Oct 2019

"Mereka terpantau dari Pos Bunder dan sedang turun menuju ke lereng yang masih aman untuk mencari tempat teduh. Pergeseran berbagai jenis satwa tersebut berada pada radius 5 kilometer dari wilayah TWA Kawah Ijen," ujarnya.

Sigit mengaku bahwa selain satwa, kebakaran ini juga mengakibatkan banyaknya jenis flora unik yang habis terbakar. Ribuan jenis tanaman yang berada di TWA Kawah Ijen ini menjadi salah satu penyumbang terbesar oksigen di Banyuwangi. Sehingga menurutnya, kerugian yang diperoleh dari kebakaran ini tidaklah dapat dihitung karena semua manfaat yang ada dari hutang ini secara otomatis hilang.

"Seperti asap yang ditimbulkan dari kebakaran ini juga menganggu penafasan manusia dan ini cukup membahayakan karena dapat menimbulkan ISPA. Demikian juga halnya dengan beberapa tanaman yang bersifat endemic. Sementara itu, kebakaran lahan ini telah mencapai 400 hektar," tambahnya.

Walaupun begitu, Sigit mengatakan bahwa kebakaran ini merupakan bagian dari siklus yang terjadi. Salah satu contoh yang dibeberkan oleh Sigit adalah cemara gunung yang tidak akan punah dari TWA Kawah Ijen. Pohon cemara gunung tersebut haruslah terbakar terlebih dahulu untuk dapat memecah biji yang nantinya akan tumbuh menjadi tanaman baru. Kondisi ini sendiri telah terjadi setiap tahunnya.

Oleh karena itu menurut Sigit, siklus tahuanan ini seharusnya telah diantisipasi oleh para petani yang menggarap lahan dari PT Perhutani supaya kebakaran tidak meluas.

"Kondisi ini tidaklah merugikan semua karena ini menjadi salah satu proses suksesi alam. Pohon cemara gunung tersebut bisa lebih banyak tumbuh sebagai tanaman endemic," tambahnya.

Sementara itu, Sigit mengatakan bahwa terdapat ratusan jenis burung di kawasan Kawah Ijen ini. Juga ada 15 jenis mamalia yang tidak dilindungi. TWA Kawah Ijen ini sendiri meliputi Kawah Ijen, Gunung Merapi Ungup-Ungup, Gunung Papak dan Gunung Widodaren.

Hingga saat ini kebakaran telah bergerak ke arah timur dan utara memasuki lereng kaki Gunung Merapi Ungu-Ungup serta mengalah ke perkebunan Kalipuro hingga Kecamatan Wongsorejo. Update informasi TWA Kawah Ijen ini sendiri akan terus dilakukan melalui situs resmi milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam.