Pemprov Banten Dan Pemkab Lebak Bersama-sama Kembangkan Kawasan Wisata Gunung Luhur

Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Lebak menyepakati akan bersama-sama mengembangkan kawasan wisata Gunung Luhur yang ada di Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Lebak, Banten. Destinasi Gunung Luhur belakangan ini mendapatkan perhatian publik dengan nama "Negeri Di Atas Awan" ini akan ditata menjadi lebih baik dengan menambahkan infrastruktur seperti akses jalan dan fasilitas yang akan mendukung kawasan wisata ini.

Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Lebak menyepakati akan bersama-sama mengembangkan kawasan wisata Gunung Luhur yang ada di Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Lebak, Banten. Destinasi Gunung Luhur belakangan ini mendapatkan perhatian publik dengan nama "Negeri Di Atas Awan" ini akan ditata menjadi lebih baik dengan menambahkan infrastruktur seperti akses jalan dan fasilitas yang akan mendukung kawasan wisata ini.

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya menjelaskan bahwa salah satu masalah yang mendesak dan perlu diselesaikan di wilayah Banten Selatan seperti Lebak adalah akses jalan. Terlebih dengan adanya wisata Gunung Luhur yang saat ini cukup ramai akan tetapi dikeluhkan mengenai akses jalannya yang masih sangat buruk sehingga dibutuhkan sinergi banyak pihak untuk menyelesaikan masalah ini.

Menurutnya, jalur yang telah ada dapat menimbulkan kepadatan yang cukup berarti. Terutama ketika ada pabrik semen yang selalu melakukan mobilitas angkutan maka diperlukan beberapa jalur alternatif dari dan menuju Jabodetabek.

"Kami telah berpartisipasi sejak tahun 2016 supaya jalur Bayah - Malingping - Rangkasbitung dapat terhindar kepadatan yang senantiasa terjadi dan tentunya hal ini perlu adanya sinergitas dari pemerintah pusah dan daerah yang terdiri dari provinsi dan kabupate/kota," jelasnya.

Pemprov Banten Dan Pemkab Lebak Bersama-sama Kembangkan Kawasan Wisata Gunung Luhur.jpg, Oct 2019

Dirinya mengapresiasi pembangunan infrastruktur jalan yang saat ini sedang digencarkan oleh Pemprov Banten terutama pada wilayah Selatan Banten. Upaya Pemprov dalam membantu membangun berbagai sarana fasilitas penunjuang wisata di Gunung Luhur juga disetujuinya asal sesuai dengan peraturan yang berlaku karena kawasan dari Gunung Luhur berada dibawah wewenang dari Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Lebak sedang menyusun sebuah master plan pengembangkan ekowisata dan akan menyerahkan rancangan pengembangkan ini kepada Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem.

Sementara itu, Sekda Pemprov Banten, Al Muktabar membenarkan bahwa saat ini pihaknya tengah mendorong pembangunan akses jalan di wilayah Banten Selatan. Dirinya menyebut bahwa pihaknya telah menyiapkan dana untuk pembangunan infrastruktur akses jalan Cikumpay - Ciparay dengan panjang 24,9 kilometer pada 2020 yang akan digunakan sebagai salah satu akses ke kawasan wisata Gunung Luhur.

Al Muktabar menambahkan bahwa dengan naiknya kunjungan wisatawan ke Gunung Luhur dibutuhkan adanya pembangunan sarana dan fasilitas di Gunung Luhur seperti masjid yang menajdi simbol dari Banten sebagai pusat peradaban.

"Kami membutuhkan sekitar seribu hingga dua ribu meter persegi untuk membangun masjid di kawasan ini yang biayanya berasal dari partisipasi PNS dan sudah terkumpul hingga Rp 700," kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pembangunan Masjid Gunung Luhur.

Menanggapi pembangunan di lahan yang masih menjadi kewenangannya, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno menyambut baik sinergi yang dilakukan oleh Pemprov Banten dengan Kabupaten Lebak dalam mengembangkan wisata yang ada di wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Akan tetapi dirinya berharap supayah pemerintah daerah berhati-hati dalam mengelola Gunung Luhur karena masih menjadi wilayah konservasi yang diharuskan untuk dijaga dengan baik.

"Pada prinsipnya KSDAE sangat mendukung pengembangkan wisata selama memenuhi peraturan yang berlaku berhubung ini adalah kawasan konservasi dan ada macan tutul yang dilindungi populasinya. Selain itu, terpenting adalah dapat mengakomodasi pemberdayaan masyarakat dan memperoleh manfaat dari pengembangan kawasan wisata yang berkelanjutan," kata Wiratno.