Fenomena Awan Topi Di Gunung Lawu Cukup Berbahaya Untuk Penerbangan Rendah

Gunung Lawu memperlihatkan keindahannya kembali dengan kemunculan dari awan yang menyerupai topi. Gumpalan awan dengan bentuk menyerupai topi ini terlihat diatas puncak gunung yang berlokasi di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur ini.

Gunung Lawu memperlihatkan keindahannya kembali dengan kemunculan dari awan yang menyerupai topi. Gumpalan awan dengan bentuk menyerupai topi ini terlihat diatas puncak gunung yang berlokasi di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur ini.

BMKG angkat bicara mengenai fenomena alam ini yang bukan pertama kali. Awan berbentuk topi ini disebut dengan nama lenticuralis atau "Topi" yang biasanya muncul di pegunungan atau dataran tinggi.

"Foto tersebut bukanlah editan karena tim di sekitar lokasi telah mengonfirmasi fenomena ini. Awan ini dikenal dengan nama lenticularis yang muncul di sekitar gunung ataupun dataran yang tinggi," jelas Kepala Stasiun Geofisika BMKG, Sawahan, Nganjuk, Muhammad Chudori.

Awan dengan bentuk topi ini secara umum tidaklah berbahaya akan tetapi untuk penerbangan, awan ini cukup merepotkan karena akan menyebabkan guncangan pada pesawat yang melewati awan ini.

Fenomena Awan Topi Di Gunung Lawu Cukup Berbahaya Untuk Penerbangan Rendah.jpg, Oct 2019

"Secara umum tidaklah berbahaya akan tetapi untuk penerbangan akan sangat menganggu dan berbahaya karena pesawat akan mengalami turbulensi selama berada di dalam awan tersebut," jelasnya.

Chudori menjelaskan bahwa awan lenticularis ini terjadi disebabkan oleh gelombang gunung atau angin lapisan atas yang cukup kuat. Gelombang angin diatas permukaan ini muncul dari salah satu sisi gunung dan membentur dinding pegunungan sehingga menyebabkan turbulensi pada sisi sebaliknya.

"Jadi ini terjadi karena adanya gelombang gunung atau angin lapisan atas yang cukup kuat dari salah satu sisi gunung dan membentur dinding pegunungan sehingga menyebabkan turbulensi pada sisi lainnya. Akhirnya menyebabkan awan bertingkat dan berputar seperti lensa. Awan ini mengindikasikan adanya putaran angin yang kuat secara vertikal sehingga sanggat berbahaya unutk penerbangan dengan ketinggian yang rendah seperti helikopter," jelasnya.

Chudori menambahkan bahwa fenomena ini secara meteorologi tidaklah mengindikasikan adanya fenomena lain seperti gempa ataupun bencana besar. Awan ini hanya mengindikasikan terdapat turbulensi pada lapisan atas.

"Fenomena ini cukup jarang terjadi dan hanya bersifat sementara atau pada waktu tertentu saja. Tandanya dari fenomena ini adalah kecepatan angin yang cukup kuat selama beberapa hari disekitar pegunungan," jelasnya.

Keindahan puncak Gunung Lawu kembali menjadi perbincangan dikarenakan munculnya awan topi ini. Fenomena ini menarik perhatian yang cukup banyak terutama warga dari Kabupaten Magetan yang tinggal cukup dekat dengan Gunung Lawu.

"Gunungnya indah ada topi diatasnya," kata Aqilah, salah satu siswi dari SDIT Salsabila, Kecamatan Tebon Barat, Magetan.

Munculnya awan ini terlihat sejak pukul 5 pagi hingga 8 pagi. Banyak warga sekitar yang mengabadikan fenomena alam ini dan mengunggahnya ke media sosial.